04-Dec-2024
Artikel Guru admin pb

Kisah Penjual Teh dan Potret Masyarakat Kita Hari Ini

Masihkah anda memaknai bulllying sebagai komedi?

Hari-hari ini media massa sangat ramai tentang pembicaraan mengenai seorang penjual teh yang berkeliling diantara para jamaah sebuah pagelaran acara. Dari potongan video yang viral tersebut, pengisi acara mengatakan kata-kata yang menurut sebagian orang adalah umpatan, bagi sebagian orang lainnya adalah candaan. Terlepas daripada itu, yang menarik adalah reaksi pedagang yang dijadikan objek itu sepintas tersinggung dengan olok-olok macam itu. Ditambah lagi, gelak tawa yang terlihat berlebihan dari pihak pembawa acara  itulah yang memantik para SJW (Social Justice Warrior) merasa terpanggil  untuk membela moriil si penjual es teh. Dan terjadilah apa yang disebut dengan viral itu.

Komedi adalah kombinasi dari waktu dan tragedi. Setiap orang, atas nama komedi, merasa berhak untuk menertawakan penderitaan orang lain sepanjang ia menganggap itu lucu dan didukung oleh semestanya. Namun selayaknya tragedi, komedi akan memicu perasaan haru sebagian orang sehingga perlu untuk melakukan pembelaan.  Setiap kejadian selalu memicu 2 mata pisau. 2 mata uang. 

Menurut saya, sebagai orang yang menikmati komedi, keberpihakan untuk menyebut suatu peristiwa sebagai komedi adalah jika 2 pihak bersepakat, setidaknya, menunjukkan gesture tidak berkeberatan oleh keduanya. Mereka akan mafhum dengan reaksi publik jika keduanya bersepakat. Itu juga menandakan bahwa orang yang berafiliasi sebagai korban sudah berdamai dengan kondisi tersebut. Ia sudah menerima dan ikhlas.

POTRET MASYARAKAT KITA HARI INI

Kita seringkali disuguhkan oleh kejadian-kejadian seperti ini. Pertanyaannya, apakah pembiaran seperti ini akan dilakukan terus menerus sehingga setiap orang akan menormalisasi olokan sebagai candaan? Bukankah jika itu terjadi pada kita, pada ayah kita yang sedang berjuang mencari nafkah, menjemput rezeki, kita akan merasakan kepedihan yang mendalam? Lantas kenapa dilakukan?

Masyarakat seringkali menilai dan melihat apa yang dilakukan orang lain lebih rendah dari yang seharusnya. Seorang penjual teh, menjajakan dagangannya dengan cara yang seperti itu, diolok-olok di depan forum, saya lebih suka menyebutnya forum dibandingkan pengajian, akan selalu dinilai sebagai orang rendahan. Hasil dari penjualan teh yang tidak seberapa itu, tidak akan ia gunakan untuk membeli mobil mewah atau real estate donk alih-alih hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya saja. Namun mereka lupa Allah swt. yang Maha membolak-balikkan hati dan apapun yang Ia mau dan hendaki. 

Tetiba si penjual teh menerima banyak simpati dan banjir pujian. Perasaan haru biru netizen tidak bisa dibendung dan akhirnya banyak sekali donasi yang dibuka dan ditujukan kepada si bapak penjual teh tersebut. Ragam jenis donasi dibuka hingga tidak tanggung-tanggung, ada orang yang bahkan menyanggupi untuk memberangkatkan umroh. Donasi yang terkumpul bahkan mencapai jutaan rupiah sehingga Bapak Penjual Teh tadi tidak hanya bisa berjualan teh namun juga bisa dibuat modal membuka warung. Begitulah jika Allah swt. Berkehendak atas sesuatu. Hitungan konsultan bisnis mana yang bisa membayangkan bahwa dengan berjualan teh ia bisa punya warung dalam sekejap dan bahkan menunaikan ibadah umroh?

GIGIH, TEKUN & KONSISTEN: AHA MOMENT

Masih ingat dengan kisah Newton yang menghasilkan hukum Newton II? Ketiban buah apel! itulah yang selalu saya sebut 'Aha Moment'. 'Aha Moment' tidak tercipta begitu saja. Semesta di sekitar kita perlu mendukung agar momen yang mengubah nasib tersebut datang. Bapak penjual teh tersebut saya yakin bukanlah momen pertama ia berjualan. Berjualan tidak mudah. Berjualan di tengah-tengah kerumunan seperti itu sangat tidak mudah, perlu kerja ekstra untuk melewati lautan manusia, perlu kegigihan untuk bisa bertahan dengan jualannya, perlu diri yang tahan banting agar tidak dicemooh orang. Hasilnya? Ya kita sama-sama tahu bahwa itu semua yang membuat si bapak penjual teh tadi mendapatkan sesuatu yang secara nalar logika sangat sulit dicapai.

Jika kita memiliki bisnis, barangkali saat ini masih stuck disitu-situ saja, mungkin 'aha moment' belum menghampiri saja. Tetap teguh, tetap tekun dan gigih dalam bekerja dan berdoa. Buka 'keran' rezeki seluas-luasnya, manfaatkan koneksi sebaik-baiknya, bangun branding dan product semaksimal mungkin. Jika anda tertarik untuk memanfaatkan Digital Marketing, InsyaAllah Pamekasan Berbakat siap membantu bisnis anda untuk scaling up dan bertumbuh.

*Penulis adalah Satiris, Kain Usang Diantara Orang-Orang Hebat Pendiri Pamekasan Berbakat. Beredar di Dunia Maya dengan akun @tsabbitaqdami