03-Dec-2024
Artikel Guru admin pb

Melihat Pemilu di Indonesia dalam Kacamata Marketing

Pemilu seringkali diibaratkan pesta demokrasi untuk masyarakat meski sejatinya tidak semua yang hadir ke sebuah pesta dalam keadaan bergembira. Saya sering mempertanyakan why is it called as a party? Ini pendapat saya saja, party dalam bahasa inggris dan jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia adalah pesta. Namun bukankan partai politik juga bermakna party dalam bahasa Inggris? Apakah pesta yang dimaksud adalah pestanya para orang-orang berpartai? Entahlah, saya juga tidak tahu.

 

Kembali kepada judul yang ditulis di atas, Pemilu di Indonesia adalah salah satu, jika tidak ingin disebut satu-satunya, merupakan pemilihan umum paling dinamis di Dunia, Kita tahu bahwa pelaksanaan dan tata cara pemilihan umum akan sangat bergantung pada partai Pemenang pemilu di periode sebelumnya. Namun bukan itu yang akan jadi pokok bahasan kita kali ini. Saya akan mencoba mengungkapkan bahwa fenomena Pemilu di Indonesia berkaitan dengan Teorema Marketing saat pemilu itu dilangsungkan.

Pemilu Orde Baru dan Marketing 1.0  

Pada pemilu orde baru yang dilakukan pada kurun waktu 1971-1997 Pemenang Pemilu didominasi oleh 1 Partai saja. Saya tidak akan membahas betapa curangnya, namun jika melihat dari kondisi saat itu, masyarakatpun tidak memiliki banyak pilihan selain memilih Golkar. Hal itu juga terjadi dengan marketing 1.0. Marketing 1.0 tidak menekankan pada bagus atau tidaknya produk yang dihasilkan melainkan para produk ini hanya dilempar saja ke Pasar karena memang tidak muncul pembeda dan pesaing yang jauh berbeda. Apapun bentuk barangnya, bagaimanapun cara memproduksinya, tidak ada ruang untuk sebuah produk untuk melakukan improvisasi. Pasar akan menyerap apa yang mereka jual. Kondisi ini, jika di Amerika menggambarkan suatu stabilitas masyarakat secara umum. Pun juga di Indonesia, masyarakat menerima saja dengan apa yang disuguhkan pada saat itu. Marketing 1.0 dikenal dengan istilah product behavior.

Pemilu 1998-2009 dan Marketing 2.0

Pada pemilu 1998-2009 adalah pemilu yang dilaksanakan secara demokratis oleh Bangsa Indonesia di Periode Awal. Sama halnya dengan kondisi saat perpindahan dari Marketing 1.0 ke Marketing 2.0, pada periode ini seringkali yang ditonjolkan adalah emotional behavior. Jika pada masa marketing 1.0 tidak adanya perubahan signifkan untuk produk sejenis yang ditawarkan ke publik maka pada Marketing 2.0 masyarakat mulai menimbang produk mana yang lebih dibutuhkan. Misalkan saja orang membeli produk A ketimbang produk B karena menilai bahwa produk A lebih bagus, lebih banyak isinya atau lebih dibutuhkan olehnya. Pun juga di periode Pemilu 1998-2009, pada saat itu pemilih akan memilih calon yang memiliki gelar akademik paling panjang, atau memiliki pangkat kemiliteran lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Selalu ada pertimbangan antara 1 dengan yang lain.

Pemilu 2014-2024 dan Marketing 3.0

Semenjak peneterasi internet dimanfaatkan secara masif di Indonesia dan kemunculan berbagai platform sosial media, cara dan sudut pandang masyarakat juga mulai berubah dalam berbagai aspek termasuk di dalamnya dalam memilih Pemimpin. Diakui atau tidak, Jasmev atau Jokowi Ahok Social Media Volunteers pada tahun 2012 adalah penetrasi pertama perpolitikan Indonesia masuk ke ranah Sosial Media. Sosial Media menjadi tempat bagi siapapun yang bertumbuh dan berkembang bersama ide-idenya dalam membuat pergerakan. Sebagaimana juga terjadi di Dunia Hiburan, dimana artis untuk bisa terkenal harus masuk ke spotlight Televisi, alih-alih sekarang melalui kanal sosial media milik mereka sendiri, mereka dapat bertumbuh dan berkembang seperti apa yang mereka inginkan. Marketing 3.0 pun sama. Produk-produk ini melahirkan evangelism yang sangat loyal tanpa perlu dibayar karena pembeli merasa "ini adalah produk yang gue banget".

*Penulis adalah satiris, kain usang diantara manusia hebat pendiri Pamekasan Berbakat. Beredar di sosial media dengan Akun @tsabbitaqdami.