Severity: Notice
Message: Undefined variable: agent
Filename: controllers/Beranda.php
Line Number: 171
Backtrace:
File: /home/pama8995/public_html/application/controllers/Beranda.php
Line: 171
Function: _error_handler
File: /home/pama8995/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once
Akhir November 2024 lalu kita dikejutkan oleh pemberitaan yang menggemparkan tentang seorang remaja 14 tahun yang tega menghabisi nyawa ayah kandung dan neneknya secara membabi buta sedangkan ibu kandungnya dalam kondisi terluka parah. Miris sekali membaca berita ini. Kok bisa ya seorang remaja melakukan itu ?
Saya mencoba merangkum informasi tentang kasus ini dari berbagai media, berikut kronologi kejadiannya :
- Kejadian berlangsung sekitar pukul 01.00 Wib.
- Pelaku berinisial MAS turun ke dapur lantai 1 untuk mengambil pisau dengan panjang 30cm. Kemudian ia kembali ke lantai 2, masuk ke kamar orangtuanya dan menusuk keduanya dengan membabi buta. Sang ayah sekarat sementara sang ibu terluka parah. Namun masih bisa melarikan diri untuk mencari pertolongan.
- Sang nenek terbangun karena mendengar suara teriakan, keluar kamar menanyakan "ada apa nak?". Na'asnya pelaku segera menghabisi nyawa korban.
- Pelaku berusaha mengejar sang ibu keluar rumah dengan membawa pisau. Namun pelaku berbalik arah dan membuang pisau setelah melihat beberapa tetangga keluar rumah. Lalu is berlari ke arah lampu merah Karang Tengah.
- Tim keamanan komplek yang telah menerima laporan segera berpencar ke berbagai tempat untuk mencari pelaku. Sempat kehilangan karena pelaku beberapa kali bersembunyi ditempat gelap. Akhirnya pencarian terus dilakukan dan pelaku berhasil ditangkap.
Selanjutnya kita akan mencoba mengenal sosok remaja berinisial "MAS" :
- Merupakan seorang remaja yang usianya 14 tahun berjenis kelamin laki-laki, anak tunggal dengan backgroud orang tua yang berpendidikan tinggi. Secara ekonomi tergolong menengah ke atas. Orang tuanya dikenal sebagai tenaga pengajar di Universitas Swasta dan memiliki bisnis properti.
- Disekolah ia dikenal sebagai siswa yang pintar di bidang akademik maupun non akademik. Sering memenangkan kejuaraan lomba dan merupakan siswa akselerasi. Pada usianya yang baru 14 tahun ia sudah duduk dikelas X SMA.
- Dilingkungan ia dikenal sebagai remaja yang ramah, pendiam, rajin sholat berjemaah di Masjid. Keluarganya juga dikenal sebagai keluarga cemara. Neneknya sering bersilahturahmi ke tetangga yang sakit maupun yang terkena musibah.
Berdasarkan data diatas sosok "MAS" terlihat sebagai remaja yang keren dengan segudang prestasi. Lalu kenapa hal tersebut bisa terjadi ? Sebagai catatan bahwasanya mendidik anak adalah perjalanan panjang selama kita hidup. Beredar komentar dari salah seorang yang mengaku orangtua teman "MAS" selama SD. Bahwa "MAS" adalah korban dari ambisi orang tuanya. Saat kelas 4 SD sering tertidur di kelas dengan alasan belajar hingga larut malam karena banyak tugas les. Ditulis juga orang tuanya meminta ia menjadi anak pintar agar masuk sekolah negeri dan perguruan tinggi negeri ternama di Depok.
Selain data diatas, saya mencoba berbagi informasi tentang bagaimana pola pengasuhan "MAS" selama masa perkembangan usianya :
- Pada usia kurang dari 2 tahun -> Ketika anak menangis, orang tua berusaha menenangkan dengan berbagai macam cara termasuk memberikan gadget. Seharusnya orang tua memberikan kesempatan anak untuk belajar bagaimana meregulasi emosi dengan baik melalui menangis.
- Usia 2 - 5 tahun -> Orang tua berusaha memberikan apapun yang diminta anak sebagai fasilitas untuk menjadikan anak pintar (salah satunya adalah gadget) dan diusia ini anak sudah disekolahkan (beban mental anak sekolah terlalu dini). Otomatis anak dapat belajar segala hal di gadget termasuk tontonan yang negatif padahal anak belum bisa menganalisa dari apa yang ditontonnya. Sehingga ketika gadget diambil, si anak tantrum dan juga kurangnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar.
- Usia 6 - 12 tahun -> Anak sudah masuk SD (lagi-lagi terlalu dini) membuat anak secara mental belum siap menerima beban sekolah yang melebihi kapasitas si anak, ditambah dengan pengalaman diusia sebelumnya yang alij-alih sebagai fasilitas menjadi anak pintar. Hal ini membuat amak menjadi manja dan seperti robot karang jarang dilarang dan tidak dapat mengelola emosi dengan baik.
- Usia diatas 12 tahun -> Anak memasuki usia pra remaja dimana di masa ini emosi menjadi labil karena ada perubahan hormon dan proses pencarian jati diri. Seharusnya dimasa ini orang tua lebih banyak meluangkan waktu dengan anak baik secara fisik maupun secara peran.
Dengan riwayat tantrum yang tidak dapat dikontrol dengan baik (anak menangis selalu ditenangkan, memberikan apa saja yang diinginkan bukan yang dibutuhkan, menuruti kemauan anak, beban sekolah dan les membuat anak stress, dan penggunaan gadget tanpa filter dan pendampingan). Semua ini pada akhirnya 'BOOM", dan terjadilah kejadian na'as tersebut. Miris sekali bukan.
Dari kasus ini kita sebagai orang tua belajar bahwasanya menjadi orang tua itu tidak cukup hanya baik, kita juga harus lebih peka, bijak dan terus belajar karena pada akhirnya anak-anak kita ini adalah amanah besar yang harus kita bimbing ke jalan yang benar. Anak adalah cerita yang belum usai, tugas orang tua adalah membimbing anak meneruskan ceritanya hingga usai sesuai versi mereka masing-masing. Bukan menuliskan kelanjutan ceritanya. Ingat, kita hanya orang tua yang dititipkan amanah oleh Tuhan.
Kasus ini juga memngingatkan kita sebagai orang tua bahwa :
- Kita jangan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan atau rumah sehingga lupa untuk meluangkan waktu sekedar bermain dan mengobrol dengan anak.
- Kita juga jangan terlalu banyak meminta mereka untuk mendengarkan nasihat-nasihat tapi kita malah lupa meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah bahkan cerita mereka.
- Selain itu, anak adalah copy paste ulung dari apa yang dilakukan orang tuanya. Ketika kita menginginkan anak kita sholih/sholihah, baik, dan pintar maka selayaknya orang tuanya lah menunjukkan dan memberi contoh terlebih dahulu bagaimana menjadi orang tua yang sholi/sholihah, baik dan pintar.
Menjadi orang tua bukan perkara mudah, banyak hal yang harus dipersiapkan dan diselesaikan terlebih dahulu sebelum menyandang tugas mulia ini. Apa itu ? Selesailah dengan urusanmu sendiri.
Bagaimana kita mau berbagi cinta tulus pada anak dan pasangan padahal kita belum bisa mencintai diri sendiri.
Bagaimana kita mau berbagi kebahagian pada mereka jika kita belum bahagia dengan hidup kita saat ini.
Bagaimana kita membantu anak kita menemukan jati diri mereka sementara kita yang sudah dewasa usianya belum tau siapa diri kita sendiri.
Selesaikanlah luka batinmu yang berasal dari inner child, trauma toxic relationship dan tuntutan-tuntutan keras terhadap diri sendiri sehingga kita dapat menjadi pribadi baru yang lebih baik lagi yang bisa berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Ketika mental orang tua baik maka akan melahirkan anak-anak yang bermental baik pula.
"Sudahkan kita selesai dengan urusan diri sendiri?"
Pamekasan Berbakat mencoba menfasilitasi hal ini dengan adanya Self Healing Class khusus untuk calon Ibu maupun seorang Ibu yang mau belajar dan mencoba menyelesaikan "urusan diri sendiri" yang ternyata mempengaruhi pola pengasuhan, hubungan keluarga, dan pengambilan keputusan dalam menjalani hidup. Temukan luka batinmu, bagaimana meregulasi emosi dan proses penyembuhan nya di Self Healing Class - Pamekasan Berbakat .
Penulis adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang menghabiskan waktunya membersamai ke-3 putra putri yang unik dan masih meluangkan waktunya berkarya sebagai Konselor di Pamekasan Berbakat Room